Selasa, 22 September 2009

BERHARAP

Bangun kembali dari tidur.
Berteriak ditengah kedinginan.

Coba mengangkat kaki yang kaku tak mampu berjalan.
Hanya duduk disini menunggu seseorang tersenyum.

Senyum yang dulu pernah menerangi bola mata ini.
Masih coba aku harapkan kedatangannya.

Namun, masih pantaskah diriku mengharapkannya.
Mengharapkan kepada yang tak sama sekali mengharapkan ini.

Rintik air mata membasahi pipi.
Senyum seolah hilang.

Akankah diriku bisa lepas dari ini.

Sabtu, 19 September 2009

BUKAN CINTA BIASA

Dirimu memandangku.
Seolah kau tak mengenalku.

Aku tahu kau malu menyapaku.
Karna diriku tak seperti yang kau harapkan.

Namun tidak apalah bagiku.
Mungkin sudah takdirku.
Hanya dapat mencintai.
Namun tidak untuk dicintai.

Cintaku padamu.
Bukanlah seperti kayu yang terbakar.
Cintaku padamu adalah seperti setianya malam dan siang.

CINTAKU PADAMU TAKKAN PERNAH HILANG

Bagai menulis namamu dipinggir pantai.
setiap huruf yang aku tuliskan.

Selalu terhapuskan oleh semburan ombak pantai.
Berulang kali aku menulisnya kembali.
Namun, selalu hilang oleh ombakmu.

Aku terus menulisnya.
Karna aku tak ingin namamu hilang.

Sebesar apapun ombak yang kau terpakan.
Aku tetap akan menulis namamu dipinggir pantai ini.

Begitulah cintaku padamu.
Mengalahkan akal sehatku.

Jumat, 18 September 2009

TOBAT

Menangis aku dalam malamku.
Tersendu-sendu mengiringi air mataku.

Teringat akan dosa-dosa yang kulakukan.
Namun baru sekarang aku menyadarinya.

Sujudku memohon ampunanmu.
Tobatku atas segala dosaku.

ENGKAU yang Maha Pengampun.
Ampunilah hambumu yang kotor ini.

Tiada tempat bagiku bersembunyi dari dosaku.
Sebelum ajalku tiba.

Ampunilah dosa-dosaku ini YA ALLAH..

Kamis, 17 September 2009

TETAP INGIN DI SAMPINGMU

Jika seandainya kita tak pernah bertemu.
Mungkin perpisahan ini takkan pernah ada.

Seandainya takdir kita tidak bicara begini.
Mungkin hati ini takkan merintih.

Seandainya takkan terpisah.
Tak mungkin malam ini kulalui dengan tangisan.

Meronta dalam sunyi tengah malam aku menangis.
Menangis karena mengingat engkau.
Yang hadir ditiap kesepian.

Aku menangis ..
Mengingat tawa candamu.

Bila kau benar-benar pergi.
Ingatlah AKU.

DI SAMPINGMU

Jika seandainya kita tak pernah bertemu.
Mungkin perpisahan ini takkan pernah ada.

Seandainya takdir kita tidak bicara begini.
Mungkin hati ini takkan merintih.

Seandainya takkan terpisah.
Tak mungkin malam ini kulalui dengan tangisan.

Meronta dalam sunyi tengah malam aku menangis.
Menangis karena mengingat engkau.
Yang hadir ditiap kesepian.

Aku menangis ..
Mengingat tawa candamu.

Bila kau benar-benar pergi.
Ingatlah AKU.

Rabu, 16 September 2009

BOLEHKAH

Biarkan aku jatuh cinta.
Biarkan aku berhayal didunia tak pasti.

Bila rasaku sudah tiada.
Apakah masih ada seseorang yang duduk disampingku.

Bulan nampak ceria memandangku.
Kehangatan cahayanya membawaku dalam kebahagian cinta.

Terlahir menjadi insan biasa.
Apakah bisa menghalangiku untuk jatuh cinta ??

BIMBANG

Terjepit antara dua mimpi.
Terbangun antara dua realita.

Terbangun dalam keadaan tak sadar.
Berlari dalam dudukku.

Tertidur dalam teriakku.
Tak juga ku dapati yang kuingin.

Rantai kaki membelenggu tanganku.
Terjerat keseluruh leherku.

Hingga nafaspun enggan keluar.
Tak dapat juga diriku hidupku sendiri.

Menjauh ternyata mendekat.
Mendekat membuatku rapuh.

Tak ada kebenaran yang ku dapat.
Hanyalah kebimbangan yang ku nikmati.

TERBELENGGU DALAM KETAKUTAN

seorang wanita duduk tersenyum diantara khayalku.
Menyapa lembut kedalam merah hatiku.

Bertiup angin membuat rambutnya menari.
Suara langkah kaki mulai terdengar mendekat ketelingaku.

Terpejam mata aku menolehnya.
Semerbak harum membangunkan nuansa indah dihatiku.

Tapi aku takut mendekatinya.
Aku takut terhadap diriku sendiri.

Apakah setiap langkah pengorbanan yang kulakukan.
Dapat Dia hargai.

IKHLASKU DALAM TONGKAT RAPUHKU

Biarkan dia pergi dari hidupku.
Nafasku bukan dia yang memiliki.

Aku masih sanggup berjalan walau hanya dengan kayu tua yang rapuh.
Akan ku biasakan diri sendiri memandangi langit.

Aku menyerah akan sikapmu.
Tiada kebahagianpun ku dapat dari suaramu.
Yang ada hanya penderitaan bathin yang terus meronta.

Berteriak dari belenggu sikap egoismu.
Mungkin dalam perjalanan rentaku.
Akan ada seseorang yang menuntutku menuju cahaya cinta yang hakiki.

Selasa, 15 September 2009

Meronta merintih dalam peluk gelapmu.
Tersambar petir disiang bolong.

Terdengar sayup-sayup suara merdu.
Dengan seorang anak kecil yang tidur dipangkuannya.

Titik peluh jatuh bagaikan permadani.
Cintanya membuat Ia sabar.

Terlihat senyum dari wajah keibuannya.
Seribu kata terucap takkan pernah terdengar di antara nyanyian embun.

Kasih sayangnya takkan hilang sepanjang masa.
Harapnya ingin anak yang dipangkuanya.
Menjadi orang yang bermanfaat

SAHABAT

Awalnya cinta berjanji mengajarkan arti setia.
Awalnya cinta juga berjanji memberikan kasih sayang.

Namun, semua nampak indah didengar.
Tak seindah yang dirasakan.

Diantara gelisahan hati.
Datang seorang sahabat.

Datang dengan tangan kosong tanpa kata.
Namun tanpa disadari.

Sahabat mengajarkan arti setia dan kasih sayang yang sebenarnya.

sungguh jika matahari jatuh diatas kepalaku.
Sahabatlah yang akan mendinginkan panasnya kepalaku.

MENUNGGU HARAPKU

Pikiran gelisah saat aku menunggu.
Ketidakpastian menungguku didepan sana.

Keyakinanku seolah membimbingku kejalan yang aku inginkan.

Tetap duduk terdiam disini.
Berharap setiap yang ku lihat adalah dirimu.

Walau setiap pandangan mataku mengatakan ''Dia takkan datang''.
Tapi hatiku enggan menggerakkan kakiku.
Untuk bergerak maju meninggalkan tempat yang sunyi ini.

Air mata seakan berkumpul dibola mataku.
Menunggu perintah untuk keluar.

PERGI UNTUK SELAMANYA

Tiada lagi kata terucap dari senyumku.
Tiada lagi hayalku mengajakku terbang.

Tiada lagi wajahmu diantara bintang-bintang malam.
Semuanya telah pergi.
Pergi dari dunia harapku.

Hanya setitik hitam kesalahpahaman.
Ternyata mampu membelah dunia kita.
Dunia yang selama ini kita diami.

Aku tak tahu bagaimana keadaanmu sekarang.
Apakah kau masih memikirkanku atau tidak sama sekali.

mungkin kau telah menyatu dengan hati yang lain.

TAK BISA PERGI DARIMU

Lelah ku ikuti bayangan hitammu.
Tak juga kau tengok aku dibelakangmu.

Harapanku seakan memberikan kesabaran kepadaku.
Setetes air mata jatuh dari dalam hatiku.

Terasa terluka saat diriku tahu.
Dirimu hanya menganggapku sama dengan orang-orang yang kau kenal.

Engkau seakan memberi isyarat.
Kalau dirimu mencintainya bukan diriku.

Setelah aku sadar akan posisiku.
Aku mencoba lari dari dari kehidupannya.
Tapi persahabatan memegang kakiku.

TERBANG BERSAMA BESI

Kecil ku tatap rumahku dari atas.
Awan-awan berbentuk boneka tersenyum padaku.

Diantara langit yang luas.
Aku lihat burung-burung menari.

Dengan alunan merdu yang tak aku dengar.
Diriku tersenyum sendiri dalam ruangan yang bising.

Dengan seorang wanita yang ramah.
Yang selalu tersenyum menawarkan bantuan.

Terbang dengan sebuah benda besi yang berat.
sungguh pengalaman yang mengasyikkan.

DATAN DENGAN PERGI

Terbuai tersipu malu saat bicara.
Gugup lidah bergerak dimulutku.

Gemetar mataku memandang matamu.
Kata terucap kaku dimulutku.

Kesadaranku akan diriku.
Tiada kata selain jatuh cinta.

Tertidur dalam cahaya bahagia.
Bahagia akan senyummu.

Namun dirimu kini telah pergi.
Pergi dengan meninggalkan bekas.

Bekas diantara dua luka.
Luka dianta dua cintamu.

KERAGU2-RAGUANKU

duduk sepi diantara dua meja.
Terdiam terpaku termenung menatap langit.

seakan angin bicara ditelingaku.
Terdiam sejenak aku mendengarnya.

Aku ragu terhadap diriku sendiri.
Apakah aku bisa mendapat dirinya.

walaupun senyum mulai memudar dari mataku.
walaupun mungkin tak ada lagi harapan.

Senin, 14 September 2009

COBAAN

terduduk kaku ditengah kesunyian.
bicara renta tak juga terdengar.

Air mata bahagia hilang sekejap.
Tangis anak manusia membangunkan bulu kudukku.

Tak seorangpun diantara mereka yang tertawa.
Namun diantara mereka masih bisa tersenyum.

Menunggu hari esok yang lebih cerah.
Oh.. cobaan..

sungguh kau datang untuk menaikan derajat kami.
Dari yang begitu manja karena DUNIA.

Sekarang kami tahu.
siapa yang paling BESAR.

keterpaksaanku dalam keikhlasanku

Berat terasa ku angkat sabarku.
Jenuh ku pandangi hatiku yang layu.

Duduk sepi diantara bebatuan hitam.
seteguk air melepaskan dahagaku.

terlanjur terjerat hidupku oleh panah.
Yang setiap saat menusuk kesedihanku.

tak bisa aku menyingkir dari gelapnya bola matamu.
tapi aku bisa menyingkir dari penderitaan hidupku.

EGO DIATAS KEANGKUHANMU

Terasa sepi saat diriku memalingkan wajahku darimu.
Namun membuat hatiku puas.

Puas karena lepas dari belenggumu.
Puas karena lepas dari ketergantunganku.

Wujudmu terlalu egois untukku miliki.
Karna dirimu terlalu angkuh terhadap namamu sendiri.

Tak sadarkah kau telah melakukan kerugian.
Tak sadarkah kau adalah penipu ulung.

Terlalu tinggi engkau terbang.
Hingga nanti kau akan merasakan sakit yang teramat sakit.
ketika kau jatuh.

EGO DIATAS KEANGKUHANMU

Terasa sepi saat diriku memalingkan wajahku darimu.
Namun membuat hatiku puas.

Puas karena lepas dari belenggumu.
Puas karena lepas dari ketergantunganku.

Wujudmu terlalu egois untukku miliki.
Karna dirimu terlalu angkuh terhadap namamu sendiri.

Tak sadarkah kau telah melakukan kerugian.
Tak sadarkah kau adalah penipu ulung.

Terlalu tinggi engkau terbang.
Hingga nanti kau akan merasakan sakit yang teramat sakit.
ketika kau jatuh.

UDARA

Kehadiranmu membuat kami hidup
Karenamu..
Alam seakan bergerak.

Sejukku ku rasakan.
Ketika kau menyapa tubuhku

Entah apa yang terjadi.
Jika kau diambil oleh penciptamu.

Mungkin kamipun tak akan ada lagi
Namun,
apakah pernah kita mensyukuri kehadirannya ??